Senin, 25 April 2016

TUGAS KARANGAN ILMIAH (PENELITIAN ILMIAH) BAHASA INDONESIA 2

PENELITIAN ILMIAH
PENGARUH SMARTPHONE TERHADAP ANAK USIA DINI






Disusun Oleh :
Shinta Janati Mirawanti
18113452
3KA07





SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan Laporan Penelitian tentang “Pengaauh Smartphone terhadap Anak Balita” . Laporan Penelitian ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah softskill Bahasa Indonesia 1.
Saya mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan laporan ini dan membantu menyelesaikan laporan ini dengan tepat waktu. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini. Oleh sebab itu, saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Akhir kata, saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta sumbangsih positif bagi kita semua.






Depok, 21 April 2016



Penulis





DAFTAR ISI 

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
1.2  Identifikasi Masalah
1.3  Batasan Masalah
1.4  Rumusan Masalah
1.5  Tujuan Penelitian
1.6  Manfaat Penelitian
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.2 Hipotesis
BAB III METODELOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
3.2 Metode Penelitian
3.3 Instrumen Penelitian
3.4 Teknik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Penyajian Hasil Analisis Data
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
Pada zaman dahulu orang yang mampu membeli smartphone hanyalah orang golongan menengah keatas, akan tetapi pada kenyataan sekarang orang yang berpenghasilan pas-pasan saja mampu membeli smartphone. Beberapa tahun yang lalu smartphone juga banyak di pakai oleh para pebisnis dari kalangan menangah ke atas. Alasan mereka menggunakan smartphone adalah untuk berkomunikasi dalam bisnis mereka.
Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, kini smartphone bukan lagi hanya sebuah barang yang digunakan untuk berkomunikasi melainkan sudah seperti barang yang wajib dimiliki oleh setiap orang termasuk anak-anak. Anak-anak di zaman sekarang sangat mahir mengoperasikan smartphone. Bahkan anak usia usia dini atau anak usia pra sekolah dapat mengoperasikan smartphone hanya dengan melihat dan mencontoh orang disekitarnya. Sangat berbeda dengan anak-anak di zaman era tahun 90-an yang sama sekali tidak mengenal smartphone. Dan yang lebih memprihatinkan orang tua dengan sengaja mengajari serta memperbolehkan putra-putrinya mengoperasikan smartphone.
Itulah yang menyebabkan saya mengangkat tema “Pengaruh Smartphone terhadap Anak Usia Dini”.

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, identifikasi masalahnya meliputi dampak yang ditimbulkan pada diri anak yang mengoperasikan smartphone.

1.3  Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang diperoleh diatas, maka batasan dalam penelitian ini lebih menitikberatkan pada penggunaan dan pengaruh smartphone bagi anak usia dini maka meliputi diantaranya :
1.      Dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan pada diri anak yang mengoperasikan smartphone
2.      Mengatasi ketergantungan anak usia dini terhadap penggunaan smartphone
1.4  Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang telah ditentukan maka rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain :
1.      Bagaimana dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan pada diri anak yang mengoperasikan smartphone
2.      Bagaimana mengatasi ketergantungan anak usia dini terhadap penggunaan smartphone

1.5  Tujuan Penelitian
1)      Untuk mengetahui bagaimana dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan pada diri anak yang mengoperasikan smartphone
2)      Untuk mengatasi ketergantungan anak usia dini terhadap penggunaan smartphone

1.6  Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca, khususnya para orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah atau dibawah 5 tahun mengenai dampak yang ditimbulkan atas penggunaan smartphone serta cara mengatasi ketergantungan smartphone terhadap anak.
















BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS


2.1  Landasan Teori

Definisi Smartphone
Smartphone atau ponsel cerdas adalah telepon genggam yang mempunyai kemampuan dengan pengunaan dan fungsi yang menyerupai komputer. Belum ada standar pabrik yang menentukan arti ponsel cerdas. Bagi beberapa orang, ponsel cerdas merupakan telepon yang bekerja menggunakan seluruh perangkat lunaksistem operasi yang menyediakan hubungan standar dan mendasar bagi pengembang aplikasi. Bagi yang lainnya, ponsel cerdas hanyalah merupakan sebuah telepon yang menyajikan fitur canggih seperti surel (surat elektronik), internet dan kemampuan membaca buku elektronik (e-book) atau terdapat papan ketik (baik sebagaimana jadi maupun dihubung keluar) dan penyambung VGA. Dengan kata lain, ponsel cerdas merupakan komputer kecil yang mempunyai kemampuan sebuah telepon.
Pertumbuhan permintaan akan alat canggih yang mudah dibawa ke mana-mana membuat kemajuan besar dalam pemroses, ngingatan, layar dan sistem operasi yang di luar dari jalur telepon genggam sejak beberapa tahun ini.
Menurut David Wood, Wakil Presiden Eksekutif PT Symbian OS, "Ponsel cerdas dapat dibedakan dengan telepon genggam biasa dengan dua cara fundamental, yakni bagaimana mereka dibuat dan apa yang mereka bisa lakukan." Pengertian lainnya memberikan penekanan perbedaan dari dua faktor ini.
Menurut Sacha Wunsch-Vincent pada Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, "Dengan menggunakan ponsel cerdas hanya merupakan sebuah evolusi dari jenjang-jenjang evolusi, jadi kemungkinan alat ini pada titik tertentu akan menjadi lebih kecil dan kita tidak akan menyebutnya telepon lagi, tetapi ia akan terintegrasi. Kesepakatannya di sini adalah untuk membuat alat ini menjadi se-tidak terlihat mungkin, antara anda, dan apa yang anda ingin lakukan."
Kebanyakan alat yang dikategorikan sebagai ponsel cerdas menggunakan sistem operasi yang berbeda. Dalam hal fitur, kebanyakan ponsel cerdas mendukung sepenuhnya fasilitas surel dengan fungsi pengatur personal yang lengkap. Fungsi lainnya dapat menyertakan miniatur papan ketik QWERTYlayar sentuh atau D-pad, kamera, pengaturan daftar nama, penghitung kecepatan, navigasi piranti lunak dan keras, kemampuan membaca dokumen bisnis, pemutar musik, penjelajah foto dan melihat klip video, penjelajah internet, atau hanya sekedar akses aman untuk membuka surel perusahaan, seperti yang ditawarkan oleh  Android dan iPhone. Fitur yang paling sering ditemukan dalam ponsel cerdas adalah kemampuannya menyimpan daftar nama sebanyak mungkin, tidak seperti telepon genggam biasa yang mempunyai batasan maksimum penyimpanan daftar nama.
Seperti yang diketahui, saat ini perkembangan smartphone di Indonesia pertumbuhannya cukup pesat. Bahkan peminat smartphone di Indonesia semakin bertambah dan hampir semua kalangan masyarakat gemar menggunakan smartphone.
Beberapa perusahaan smartphone kini tengah berlomba-lomba untuk mengembangkan produk dengan keunggulan masing-masing. Jadi bisa dipastikan dari tahun ke tahun smartphone selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.
Definisi Anak Usia Dini
Anak Usia Dini merupakan anak usia pra sekolah (sebelum sekolah) atau dapat diartikan sebagai salah satu periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari 2 sampai dengan 5 tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Sedangkan di Indonesia, umumnya anak balita mengikuti program Tempat Penitipan Anak, Taman Pendidikan al Quran, dan Kelompok Bermain atau Play Group.
  Disadari atau tidak kebiasaan lingkungan terhadap anak usia dini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Pada saat ini seiring berkembangnya teknologi, banyak sekali yang berpengaruh pada anak salah satunya adalah penggunaan smartphone. Smartphone sangat mudah sekali menarik perhatian dan minat anak balita dan sudah menjadi hal yang biasa jika anak balita saja sudah memakai smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu peran orang tua sangat penting dalam perkembangan teknologi yang sangat maju di zaman sekarang ini.
Berbagai penelitian dari kedokteran maupun dunia psikolog mengenai dampak smartphone telah dilakukan. Smartphone  memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, demikian pula terhadap anak usia dini. Dari segi psikologis, masa kanak-kanak adalah masa keemasan dimana anak-anak belajar mengetahu apa yang belum diketahuinya. Jika masa kanak-kanak sudah tercandu dan terkena dampak negatif oleh smartphone, maka perkembangan anakpun akan terhambat khususnya pada segi prestasi. Berikut ini diuraikan dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan pada anak balita yang mengoperasikan smartphone.
Dampak Positif
Ø  Memberikan pengetahuan baru
Ø  Meningkatkan kreatifitas anak
Ø  Meningkatkan konsentrasi
Ø  Meningkatkan kemampuan belajar anak
Ø  Meningkatkan kemampuan anak dalam berbahasa asing
Dampak Negatif
Secara akademis :
Ø  Cenderung menginginkan hasil yang serba cepat dan instan serta tidak menghargai suatu proses
Ø  Minat membaca buku pada anak akan berkurang sebab semua yang dibutuhkannya sudah tersedia di dalam smartphone
Ø  Minat anak untuk belajar menulis dan berhitung akan berkurang sebab anak lebih tertarik pada smartphone yang memiiki banyak permainan
Secara sosial :
Ø  Komunikasi verbal pada anak akan berkurang. Anak cenderung bersikap individuais dan egosentris.
Ø  Anak menjadi tidak peka atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena perhatiannya hanya tertuju pada smartphone
Ø  Anak akan kurang bisa mengekspresikan dirinya karena jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya
Selain dampak-dampak negatif diatas permainan pada smartpone yang lebih menarik akan membuat anak kecanduan dalam mengoperasikan smartphone, sehingga tidak baik untuk kesehatan fisik diantaranya seperti efek bagi mata, posisi duduk yang salah serta efek radiasi smartphone yang sangat berbahaya bagi tumbuh kembang anak.
Cara mengatasi ketergantungan anak balita terhadap penggunaan smartphone
1)      Pilih konten (isi) smartphone yang berkualitas sesuai dengan usia anak
2)      Batasi penggunaan smartphone untuk anak yaitu hanya 30 menit hingga 1 jam per hari
3)      Imbangi penggunaan smartphone dengan aktivitas fisik anak misalnya mengajak bermain bersama, membacakan dongeng anak, belajar membaca, menulis, dan berhitung
4)      Jangan terus menerus memberikan smartphone tablet kepada anak hanya untuk membuat mereka ‘tenang’ sendiri.
5)      Mulai ajarkan kepada anak bagaimana fungsi smartphone yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi dengan orang lain
6)      Sebagai orang tua jadilah contoh yang baik dengan tidak menggunakan smartphone ketika sedang berada di dekat anak

2.2  Hipotesis
Smartphone pasti akan sangat berpengaruh pada anak. Contohnya penggunaan smartphone akan berpengaruh pada psikologi anak. Adanya gangguan Psikomotorik dan stabilisasi emosi pada anak usia dini (usia 2 s/d 5 tahun).















BAB III
METODELOGI PENELITIAN


3.1 Rancangan Penelitian
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa-siswi TK ISLAM SYUHADA sebanyak 30 anak.
3.1.1 Sampel
Sampel penelitian ini adalah sebagian dari siswa-siswi TK ISLAM SYUHADA yang memenuhi kriteria, yaitu berusia 2 s/d 5 tahun.
3.1.2  Tempat
TK ISLAM SYUHADA
Alamat Perum Beji Permai Blok T, Tanah Baru - Depok
3.1.3 Waktu
Penelitian dilakukan pada tanggal 14 April 2016

3.2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif yang menitikberatkan pada observasi dan suasana ilmiah, yaitu dengan mencari teori yang berhubungan dengan tema penelitian, melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu (yaitu anak usia 2 s/d 5 tahun), kemudian mengumpulkan informasi aktual secara rinci serta mengidentifikasi atau menganalisa kondisi yang ada.
Metode deskriptif pada penelitian ini dilakukan dengan cara membagikan lembar quisioner kepada orang tua dan melakukan tanya-jawab secara lisan dengan anak untuk mengisi quisioner tersebut. Langkah – langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu :
1)      Meminta ketersediaan orang tua untuk menjadi responden
2)      Membagikan lembar quisioner kepada orang tua
3)      Melakukan tanya-jawab dengan anak untuk mengisi quisioner.
Pada tahap ini orang tua yang mengisi quisioner, si anak hanya memberikan jawaban secara lisan.



3.3 Instrumen Penelitian
Ø  Lembar quisioner
Ø  Wawancara secara lisan

3.4 Teknik Analisis Data
Quisioner dianalisa dan dihitung guna memperoleh data dan membuat kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.





























BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Penyajian Analisis Data
Berdasarkan kategori jawaban dari angket mengenai pengaruh smartphone terhadap anak usia balita yang terdiri dari dua pilihan jawaban yaitu A dan B yang merupakan tingkat pengauh smartphone terhadap anak balita dinyatakan dalam tabel sebagai berikut.
No. Soal
Pilihan Jawaban
A
B
1
IIIII IIIII IIIII IIIII III
IIIII II
2
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII III
II
3
IIIII
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII
4
IIIII IIIII IIIII IIIII
IIIII IIIII
5
IIIII IIIII IIIII III
IIIII IIIII II
6
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII I
IIII
7
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII

Keterangan Pilihan Jawaban :
A = Ya
B = Tidak

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Pertanyaan :
1. Anda memberi izin kepada anak menggunakan smartphone ?
Jawaban :
A = 23 koresponden = 77%
B = 7 koresponden = 23%

Pertanyaan :
2. Apakah anda hanya meminjamkan smartphone milik anda kepada anak, bukan memberikan kepada anak untuk dimiliki seutuhnya?
Jawaban :
A = 28 koresponden = 98%
B = 2 koresponden = 2%


Pertanyaan :
3. Apakah jumlah smartphone yang anak anda gunakan lebih dari dua ?
Jawaban :
A = 5 koresponden = 17%
B = 25 koresponden 83%

Pertanyaan :
4. Anak anda menggunakan smartphone lebih dari 3 jam dalam sehari ?
Jawaban :
A = 20 koresponden = 67%
B = 10 koresponden = 33%

Pertanyaan :
5.Apakah anda memberikan izin kepada anak menggunakan smartphone diluar rumah contohnya di restoran, kendaraan ?
Jawaban :
A = 18 koresponden = 60%
B = 12 koresponden = 40%

Pertanyaan :
6. Apakah gadget yang anak anda gunakan terdapat aplikasi yang dapat memberikan edukasi kepada anak ?
Jawaban :
A = 26 koresponden = 87%
B = 3 koresponden = 13%

Pertanyaan :
7. Apakah semua orang di lingkungan keluarga anda menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari ?
Jawaban :
A = 30 koresponden = 100%
B = 0 koresponden = 0%

            Dari hasil penelitian yang saya lakukan dapat disimpulkan bahwa hampir semua orangtua memberikan izin kepada anak menggunakan smartphone, tetapi hanya meminjamkannya saja tidak memberikan kepada anak untuk dimiliki secara utuh dan jumlahnya pun tidak lebih dari 1 smartphone. Hampir 30 anak yang dilibatkan dalam pengambilan data menggunakan smartphone 1-3 jam dalam sehari. Lebih dari setengah koresponden memberikan izin kepada anak untuk menggunakan smartphone diluar rumah. Gadget yang digunakan anak sudah terdapat aplikasi yang dapat memberikan edukasi kepada anak yang bermanfaat bagi anak.
























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
            Smartphone atau ponsel cerdas adalah telepon genggam yang mempunyai kemampuan dengan pengunaan dan fungsi yang menyerupai komputer. Sedangkan Anak Usia Dini merupakan anak usia prasekolah atau dalam arti lain salah satu periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari 2 sampai dengan 5 tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan.
            Peran orangtua atau orang dewasa sangat penting dalam pertumbuhan anak. Perkembangan smartphone yang semakin canggih berdampak pada kehidupan kita, khususnya kalangan anak usia dini. Sebab sebuah smartphone merupakan media pembelajaran dan media pengembangan kreatifitas anak yang cukup efektif. Dengan adanya tampilan gambar yang bergerak, efek suara yang bermacam-macam membuat konten smartphone diminati dan disukai anak. Walaupun smartphone memberikan dampak yang positif kepada anak, penggunaan smartphone pada anak khususnya anak usia dini harus tetap diawasi dan dibatasi. Jika anak terlalu sering menggunakan smartphone banyak dampak negatif yang ditimbulkannya, seperti anak menjadi kurang tanggap terhadap lingkungan dan anak kurang bisa mengekspresikan dirinya karena jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Saran
            Setiap perilaku orangtua akan dicontoh oleh anak terlihat dari hasil penelitian saya bahwa seluruh anggota keluarga para koresponden menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, sebagai orang tua atau orang yang lebih dewasa hendaknya kita lebih bijak dalam menggunakan smartphone, jika sedang berada didekat anak kurangi penggunaan smartphone untuk sementara waktu. Orangtua juga harus berpikir kembali jika ingin memberikan izin menggunakan smartphone kepada anak yang usianya masih sangat belia.




DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 22 April 2016

TUGAS ARTIKEL BAHASA INDONESIA 2

Eksistensi Bahasa Indonesia di era Globalisasi

Bahasa merupakan media untuk menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan dari individu satu ke individu lainnya.  Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa ‘ibu’. Di abad 20-an seperti sekarang ini, bahasa Indonesia sudah mulai tergerus oleh zaman. Bahasa Indonesia sudah tergantikan posisinya oleh ‘bahasa gaul’ yang sudah digunakan sebagai bahasa sehari - hari oleh masyarakat. Padahal seharusnya suatu bahasa merupakan jati diri dari suatu bangsa. Bahasa gaul atau bahasa prokem itu sendiri adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul (Wikipedia). Contoh bahasa gaul seperti kata ‘tajir’ yang merupakan sebutan lain untuk kata ‘kaya’ dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya bahasa gaul ini sudah pasti akan menghilangkan eksistensi bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul yang tidak semestinya seharusnya sudah mulai dihindari oleh masyarakat, khusus oleh kaum muda yang sudah sangat terbiasa menggunakan bahasa ini. Menghindari bahasa Indonesia dapat dilakukan denga cara menanamkan kecintaan dalam diri generasi bangsa terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa yang digunakan dalam sehari -  hari. 
Disamping bahasa gaul, adanya era globalisasi mengharuskan masyarakat Indonesia belajar menggunakan bahasa standart Internasional (yaitu bahasa Inggris). Hal ini membuat masyarakat Indonesia merasa malu atau merasa ketinggalan zaman jika tidak dapat menguasai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Masyarakat cenderung lebih memilih belajar dan mendalami bahasa asing, ketimbang harus belajar dan mendalami bahasa Indonesia yang sejatinya merupakan bahasa nasional bangsa Indonesia. Masyarakat akan merasa bangga jika mahir dalam berbahasa asing, masyarakat tidak terlalu memikirkan bahwa bahasa Indonesianya saja masih belum sempurna. Dengan adanya kemajuan teknologi pada era globalisasi juga membuat penaruh yang cukup besar terhadap penggunaan bahasa asing di Indonesia. Gadget yang semakin canggih membuat orang semakin terpengaruh untuk menggunakan bahasa asing yang digunakan sebagai bahasa sehari - hari.
Adanya bahasa gaul saja sudah mengurangi eksistensi bahasa Indonesia, ditambah lagi bahasa asing yang akan semakin mengurangi eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan sehari - hari. Supaya terlihat tidak ketinggalan zaman, banyak masyarakat yang mencampur adukan penggunaan bahasa Indonesia, bahasa gaul, dan bahasa asing. Terlebih lagi generasi muda semakin banyak yang menggunakan ketiga bahasa ini sekaligus. Media elektronik seperti televisi dan radio yang seharusnya bisa memberikan pengaruh yang baik bagi masyarakat, justru sudah mencampur adukan ketiga bahasa ini. Media elektronik seolah tidak menyaring penggunaan bahasa yang tidak semestinya digunakan dan ditayangkan kepada masyarakat. Media elektronik seharusnya dapat menjadi contoh teladan bagi masyarakat dengan menggunakan bahasa Indonesia saja.
Bagaimana supaya eksistensi bahasa Indonesia tidak memudar bahkan menghilang di era globalisasi ini? Mudah saja, masyarakat harus dapat teguh berpendirian untuk menggunakan dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari - hari. Masyarakat tidak boleh malu untuk menggunakan bahasa indonesia. Hindari mencampur adukan bahasa Indonesia, bahasa gaul dan bahasa asing dalam aktifitas sehari - hari. Masyarakat harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing sesuai porsinya masing – masing dan di waktu dan tempat yang sesuai juga. Pendidikan bahasa Indonesia di sekolah - sekolah dan di instansi - instansi pendidikan juga harus semakin ditingkatkan, terlebih lagi di rumah dan keluarga. Sebab rumah dan keluarga merupakan tempat pertama anak untuk belajar dalam segala hal. Dengan kiat - kiat tersebut akan mengembalikan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan dalam aktifitas sehari - hari. 

Sabtu, 16 April 2016

TUGAS CERPEN BAHASA INDONESIA 2

Perjuangan menjadi Asisten Laboratorium


Aku adalah seorang mahasiswi Universitas Gunadarma jurusan Sistem Informasi tahun angkatan 2013. Selama berkuliah, aku merasakan cukup berat menjadi mahasiswa. Berangkat pagi - pulang sore rasanya sudah biasa, belum lagi ditambah jadwal praktikum yang harus ku ikuti. Tetapi untunglah jadwal kuliah Universitas Gunadarma tidak terlalu padat. Selama seminggu jadwal kuliah dan jadwal praktikum hanya 4-5 hari saja, sehingga ada 1 - 2 hari yang kosong (libur). Terkadang jadwal kuliah atau praktikum juga hanya setengah hari saja, contohnya dari pagi - siang atau siang - sore. Aku yang setiap harinya sepulang kuliah langsung pulang ke rumah tidak ada aktifitas lain atau istilah anak muda ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang kuliah-pulang), mulai merasa bosan. Hingga aku memutuskan untuk mencari pengalaman baru diluar jadwal kuliah ku. Aku mengetahui bahwa di setiap laboratorium kampus terdapat kakak - kakak asisten yang menjadi tutor (pengajar) yang setiap bulannya akan mendapatkan penghasilan (gaji). Aku pun tertarik untuk melamar menjadi asisten laboratorium.
Ketika aku duduk di akhir semester 4, aku bersama teman - teman mulai mencari informasi penerimaan asisten atau staf Gunadarma. Begitu mengetahui Laboratorium iLab membuka penerimaan asisten, aku dan dua orang teman sekelas yaitu Niken dan Suci mencoba melamar menjadi asisten di iLab. Syarat menjadi asisten iLab, ipk terakhir minimal harus 3.00. Kami membuat lamaran dan menyerahkan ke iLab di kampus H. Setelah beberapa hari kami mendapat telepon untuk mengikuti seleksi asisten iLab. Pada hari-H yang mendebarkan kami mengikuti seleksi berbasis komputer. Kami disediakan jenis soal Tes Pengetahuan Akademik dan diberi waktu pengerjaan sekian menit (aku lupa berapa jumlah soal nya dan berapa lama waktunya). Tes yang 2 jam rasanya seperti 24 jam begitu sulit, aku dan dua orang teman ku tidak mengerti soal-soal yang kami kerjakan. Mungkin karena kami baru semester 4 mau semester 5, hehe. Kami bertiga tidak ada yang tahu pengumuman tes selanjutnya melalui apa. Hingga salah satu dari temanku yaitu Suci mendapat telepon dan dinyatakan lolos tes tahap 1. Kecewa dan sedih rasanya tidak lolos tes. Apalagi mengingat aku sudah mengorbankan diri untuk tidak ikut sepupu ku yang liburan ke malang - bali karena mengikuti tes tahap pertama yang ternyata tidak lolos. Teman ku Niken pun merasakan kecewa dan sedih. Tetapi aku dan Niken senang karena Suci bisa lolos tes tahap 1. Dari kira - kira 150 orang yang ikut tes tahap 1 kira - kira hanya 75 orang yang lolos tes tahap 1. Suci pun mengikuti tes tahap 2 yaitu tes pemrograman. Setelah selesai tes, Suci tidak yakin apa dirinya akan lolos sebab tes yang ini lebih sulit dari tes sebelumnya. Benar saja, pengumuman tes melalui website menyatakan Suci tidak lolos karena tidak ada nama Suci di website tersebut. Kecewa dan sedih lah kami bertiga.
Tetapi aku tidak patah semangat. Aku dan teman - teman ku tetap mencari informasi lowogan asisten dan staf Gunadarma. Kemudian aku mendapat informasi bahwa bagian Barcode Gunadarma sedang membuka lowongan staf Barcode. Mungkin masih ada yang belum tahu bagian Barcode itu apa. Bagian Barcode merupakan bagian yang melakukan input absensi kehadiran mahasiswa dan absensi kehadiran dosen Gunadarma. Bagian barcode melakukan input absen dengan media komputer atau laptop. Syarat menjadi staf Bacode ipk minimal harus 3.00. Kali ini aku dan teman - teman ku diantaranya Nanda (teman tingkat 1 ku), Suci, Agnes, Omega, dan Zulfa (teman kelas ku) mencoba melamar menjadi staf Barcode. Kami membuat lamaran dan meletakkannya di loket kampus D. Beberapa hari kemudian kami mengikut tes tahap pertama yaitu tes tertulis yang berupa tes kemampuan dasar dan tes pengetahuan akademik. Jumlah soal 50 pilihan ganda dikerjakan secara tertulis biasa. Soal - soal nya lumayan sulit, ada soal hitungan dan soal pengetahuan umum. Kami sangat lega setelah mengerjakan tes tersebut. Beberapa hari kemudian, kami diberi kabar melalui sms bahwa kami semua lolos tes tahap 1 dan bisa melanjutkan tes tahap 2 yaitu tes wawancara (interview). Rasanya senang sekali perjuangan mengerjakan soal - soal tidak sia - sia. Hari yang kami nanti pun tiba. Kami bersama - sama mengikuti interview dengan rasa gugup. Gugup karena dipanggil satu - satu ke dalam ruangan dan harus menjawab pertanyaan - pertanyaan penguji. Setelah beberapa hari kemudian, pengumuman tes dilakukan melalui sms lagi. Hanya 2 orang teman ku yaitu Agnes dan Zulfa yang mendapat sms. Itu artinya aku tidak lolos (lagi). Lagi - lagi aku merasa kecewa dan sedih tetapi yang sekarang sangat kecewa. Padahal hanya tinggal selangkah lagi tetapi apa daya Allah mungkin masih ingin aku berjuang dan aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik buat aku. Untuk staf Bacode peminat nya sangat banyak, mungkin ada 200 orang yang melamar tetapi yang benar - benar diterima hanya 30-an saja.
Rasanya aku mulai putus asa. Tetapi aku masih penasaran dan tekad ku menjadi asisten atau staf Gunadarma memang lebih kuat dari rasa putus asa ku. Aku mencari informasi lowongan asisten atau staf lagi. Aku mendapat informasi staf bagian pendaftaran kursus dan workshop sedang membuka lowongan. Syarat menjadi staf bagian pendaftaran kursus dan workshop ipk terakhir minimal harus 3.00. Aku dan teman ku Nanda membuat lamaran untuk lowongan tersebut. Pengumuman waktu tes akan diumumkan melalui telepon.
Sambil menunggu pengumuman waktu tes, aku mencari informasi lowongan asisten atau staf Gunadarma yang lain. aku mendapat informasi dari teman bahwa Laboratorium Fisika Dasar sedang membuka lowongan asisten. Aku dan Nanda pun nekat membuat lamaran disaat kami sedang menunggu pengumuman waktu (panggilan) tes di staf bagian pendaftaran kursus dan workshop. Syarat menjadi asisten Laboratirum Fisika Dasar ipk terakhir minimal harus 2.75 (ini lebih rendah dibanding asisten atau staf di bagian lain). Rasanya aku sangat nekat melamar menjadi asisten Laboratorium Fisika Dasar. Karena aku tidak begitu suka dengan Fisika malah cenderung malas dengan hitungan Fisika. Ditambah lagi untuk mengikuti tes tahap 1 yaitu tes tertulis harus punya kalkulator scientific untuk mengerjakannya. Kalkulator scientific ku sudah lama rusak sejak SMA lebih tepatnya. Aku dilema apa harus membeli kalkulator baru, memperbaiki kalkulator ku yang rusak atau pinjam kalkulator teman. Akhirnya aku memilih pinjam kalkulator teman karena pikir ku ini kan baru tes kalau beli harus mengeluarkan uang, kalau nanti aku lolos sih gapapa tapi kalo tidak lolos kan sedih juga, ditambah ada rasa trauma karena sebelumnya aku sudah 2 kali daftar asisten atau staf Gunadarma dan kedua - duanya tidak lolos. Aku pinjam kalkulator temanku yang bernama Zulfa (temanku yang sudah keterima di staf Barcode).
Hari yang mendebarkan pun tiba, aku dan Nanda mengikuti tes tahap 1. Sangat kebetulan ketika di Laboratorium Fisika Dasar aku bertemu dengan salah satu teman SMA ku bernama Fahda. Fahda juga melamar menjadi asisten Laboratorium Fisika Dasar. Aku menyempatkan diri untuk berbincang dengan Fahda sebentar sebelum tes dimulai. Ketika tes dimulai, kami disuguhi soal Fisika sebanyak 50 pilihan ganda dan beberapa soal essay (kira - kira ada 10 essay). Rasanya pusing mengerjakan soal Fisika sebanyak itu ditambah bonus ruangan Fisika yang dingin membuat aku makin gugup. Pengumuman tes tahap 1 diumumkan melalui sms dan ditempel di dinding Laboratorium Fisika Dasar. Setelah beberapa hari, aku dan Nanda mendapat sms bahwa kami lolos tes tahap 1. Rasanya senang bukan kepayang. Aku yang tidak belajar serius ketika hendak mengikuti tes dan bermodalkan kalkulator pinjam bisa lolos tes. Sungguh Allah maha baik pada umat Nya yang mau berusaha dan berdoa. Tetapi sayangnya, teman SMA ku Fahda tidak lolos tes tahap 1. Selanjutnya aku dan Nanda dijadwalkan untuk mengikuti pelatihan asisten atau dalam istilah lainnya trainning. Aku senang karena di Laboratorium Fisika Dasar hanya ada 1 kali tes saja, setelah itu tinggal mengikuti pelatihan saja.
Ketika hari pertama mengikuti pelatihan, aku dan Nanda mendapat kabar melalui sms dari bagian staf pendaftaran kursus dan workshop yang sebelumnya kami lamar untuk mengikuti tes wawancara (interview). Kaget rasanya ketika sudah hampir dinyatakan resmi menjadi asisten Laboratorium Fisika Dasar, kami malah mendapat kabar dari bagian pendaftaran kursus dan workshop. Bingung rasanya harus pilih mana, tetap mengikuti pelatihan asisten Laboratorium Fisika Dasar atau mengikuti interview di bagian staf pendaftaran kursus dan workshop. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk tetap mengikuti pelatihan asisten Laboratorium Fisika Dasar. Karena kami pikir, sebulan lebih kamu menunggu sama sekali tidak ada kabar dari bagian staf pendaftaran kursus dan workshop. Lagipula di Laboratorium Fisika Dasar kami sudah hampir resmi menjadi asisten, sedangkan di bagian staf pendaftaran kursus dan workshop baru akan tes interview belum tentu lolos.
Perjuangan saya tidak berhenti sampai disitu saja, sebelumnya aku dan Nanda sudah terlanjur mendaftar kursus Database di kampus H. Dan ternyata jadwal kursus kami dengan jadwal pelatihan asisten waktunya bersamaan (bentrok). Kami dibuat kualahan karena bentrok jadwal itu. Setiap hari selama seminggu kami mengikuti keduanya. Pagi - siang hari aku dan Nanda ikut pelatihan asisten lalu siang - sore harinya kami ikut kursus. Untungnya keduanya dilaksanakan di kampus H sehingga kami tidak perlu repot ke kampus lain. Kepala Laboratorium Bapak Jonifan dan para asisten senior pun  memaklumi posisi kami sehingga kami diperbolehkan ikut pelatihan hanya setengah hari saja. Selama pelatihan kami diwajibkan memahami semua modul yang ada di Laboratorium Fisika Dasar dan ada ujian yang harus kami ikuti. Ujian pelatihan berupa ujian mengajar praktikum Fisika Dasar. Kami harus memperagakan alat – alat dan mengajar didepan asisten senior. Sangat gugup rasanya karena aku seorang yang pemalu dan pendiam, terlebih ketika berhadapan dengan orang yang belum terlalu aku kenal. Tetapi karena niat awalnya melamar asisten ingin mencari pengalaman baru selain kuliah biasa, aku pun harus bisa mengikuti ujian ini. Setelah ujian selesai, kami dinyatakan resmi menjadi asisten Laboratorium Fisika Dasar. Pada ujian ini tidak ada pengurangan lagi, artinya semua yang mengikuti pelatihan dan ujian serta tidak pernah absen selama kegiatan tersebut sudah pasti menjadi asisten. Aku sangat senang akhirnya setelah perjuangan panjang aku bisa menjadi asisten di salah satu Laboratorium Gunadarma. Yang lebih membuat ku senang karena aku bisa mendapatkan penghasilan sendiri walaupun tidak seberapa tetapi setidaknya bisa membuat Ibu bangga. Aku sangat bersyukur pada Allah yang telah mengabulkan tekad dan doa ku menjadi asisten laboratorium di kampus.  Tidak lupa juga aku berterima kasih pada temanku Zulfa yang telah meminjamkan kalkulatornya ketika aku tes tertulis.

Rabu, 23 Maret 2016

Tugas 1

1.1                         Aspek Penalaran dalam Karangan
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah suatu proses berpikir yang logis dengan berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fakta  adalah kenyataan yang dapat diukur dan dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan, yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui, meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan. Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi”.
Sedangkan menurut Widjono, (2007 : 209), mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
a)      Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
b)      Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
c)      Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru.
d)     Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
e)      Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi(consequence).
Kegiatan menulis sebagai proses bernalar. Ketika kita ingin menulis sesuatu tulisan baik dalam bentuk karangan atau pun lainnya, maka kita harus mencari topiknya terlebih dahulu. Dalam mencari suatau topik tersebut kita diharuskan untuk berfikir, maka ketika berfikir tanpa disadari kita telah melakukan proses penalaran. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek yaitu :
1)      Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan merupakan hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain yang terdapat dalam suatu karangan.
2)      Aspek Urutan
Aspek urutan merupakan pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan.
3)      Aspek Argumentasi
Aspek argumentasi adalah bagian yang menyatakan fakta , analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari suatu hal yang telah dibuktikan.
4)      Aspek Teknik Penyusunan
Aspek teknik penyusunan merupakan bagaimana dari pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten, karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu dan teknik bersifat baku dan universal.
5)      Aspek Bahasa
Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan bahasa karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah . Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan  suatu karya sastra terlebih untuk karangan ilmiah akademis.
1.2                         Penalaran Induktif
Penalaran Induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Pada penalaran induktif, metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Contoh :
Premis 1 : Makhluk hidup akan mati
Premis 2 : Makhluk hidup akan mati
Premis 3 : Makhluk hidup akan mati
Konklusi: Semua makhluk hidup akan mati
Proses induktif dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
a)      GENERALISASI
ialah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas jumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa. Generalisasi dibuktikan dengan data, contoh, statistic dll
Contoh :
Orang yang menjadi kader partai korupsi
Orang yang menjabat sebagai ketua umum partai korupsi
Generalisasi : Orang yang berkerja di partai korupsi
Jenis-jenis generalisasi :
§      Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi atas dasar penyimpulan yang telah diselidiki.
Contoh: data survey LSM
§      Generalisasi Dengan Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
contoh: Hampir seluruh partai mendapat pendapatan dari hasil korupsi.
b)      ANALOGI
Adalah suatu proses penalaran membandingkan sifat esensial yang mempunyai persamaan. Dengan asumsi tersebut diasumsikan ada persamaan pula dalam hal lainya.
Ada 2 macam analogi,yaitu :
§       Analogi Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif :
Rio Haryanto lolos klasifikasi balap F1, dengan demikian Rio Haryanto masuk ajang balap F1 dengan berlatih setiap hari.
§       Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
Contoh analogi deklaratif :
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
c)       HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT
Hubungan sebab akibat diambil dengan menghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lain, dapatlah kita sampai kepada kesimpulan yang menjadi sebab dari fakta itu atau dapat juga kita sampai kepada akibat fakta tersebut.
Penalaran induktif sebab akibat dibedakan menjadi 3 macam:
§       Hubungan sebab – akibat
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi sebab, kemudian ditarik kesimpulan yang berupa akibat.
Contoh :
Belajar, berdoa, tekun dan tidak putus asa adalah hal yang bias membuat kita berada di puncak kesuksesan.
§       Hubungan akibat – sebab
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi akibat, selanjutnya ditarik kesimpulan yang merupakan sebabnya.
Contoh :
Dewasa marak terjadi tindak criminal di perkotaan seperti,tingkat stress yang tinggi, tawuran antar wilayah dan bunuh diri yang disebabkan kenaikan harga bbm sehingga mengalami kesulitan ekonomi.
§       Hubungan sebab – akibat 1 – akibat 2
Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama menjadi sebab hingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi sebab yang menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya.
Contoh penalaran hubungan sebab – akibat 1 – akibat 2:
Setiap menjelang hari idul fitri arus lalu lintas di tol sangat ramai. Seminggu sebelum hari H jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan umum maupun pribadi yang mengangkut penumpang yang akan pulang ke daerahnya masing-masing. Banyaknya kendaraan tersebut mau tidak mau mengakibatkan arus lalu lintas menjadi semrawut. Kesemrawutan ini tidak jarang sering menimbulkan kemacetan di mana-mana. Lebih dari itu bahkan tidak mustahil kecelakaan menjadi sering terjadi.
1.3                         Penalaran Deduktif
Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduktif / deduksi adalah merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Metode berpikir yang digunakan adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
1.      Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2.      Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3.      Kesimpulan
Contoh:
Premis mayor : Semua mahasiswa Universitas Gunadarma wajib membuat Penulisan Ilmiah
Premis minor : Syifa adalah mahasiswa Universitas Gunadarma
Kesimpulan : Syifa wajib membuat Penulisan Ilmiah
Jenis-jenis penalaran deduktif :
a)      SILOGISME
Penalaran deduktif biasanya sering digunakan adalah silogisme. Silogisme adala penalaran secara tidak langsung. Dalam silogisme kita terdapat dua premis dan satu premis kesimpulan. Kedua premis itu adalah premis umum/premis mayor dan premis khusus/premis minor. Dari kedua premis tersebut kesimpulan dirumuskan. Rumus menentukan kesimpulan sebagai berikut :
Premis Umum : semua A = B
Premis Khusus : C = A
K : C = B
Contoh :
PU : Semua hewan yang mempunyai telinga berkembang biak dengan melahirkan
PK : Rusa memiliki telinga
K : Rusa tentu berkembang biak dengan melahirkan
b)      ENTINEM
Entinem adalah silogisme yang dipersingkat, hanya terdiri dari premis khusus dan kesimpulan. Entimen mengandung penyimpulan sebab akibat dari kedua preposisi tersebut, yaitu preposisi khusus (premis khusus) merupakan sebab bagi apa yang terkandung di dalam preposisi kesimpulan
Contoh :
Silogisme kategorial :
PU : Semua dosen (A) adalah lulusan perguruan tinggi (B)
PK : Bapak Budi C adalah seorang dosen (A)
K : Bapak Budi C adalah seorang dosen (B)
Entinem : Bapak Budi adalah lulusan perguruan tinggi ia seorang dosen
K PK

Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.Jakarta : Grasindo.
Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.
http://rezaiueomanage.blogspot.co.id/2012/03/definisi-jenis-jenis-penalaran.html

Jumat, 15 Januari 2016

Softskill tugas individu 9

Kumpulan Pantun


Landak meniti diatas dahan
Kucing mengendap di dekat tungku
Niat berdua dengan Tuan
Sejak dahulu di rahim ibu

Telah masak buah mengkudu
jatuh sebiji dimakan musang
Hati risau bercampur rindu
siang dan malam terbayang-bayang

Sudah kubilang jalannya licin
kenapa abang naik sepeda
Sudah kubilang diriku miskin
kenapa abang tetap cinta

Anak gajah ditengah rimba
orang membakar ikan belanak
Sejak abang tinggalkan saya
tidur tak nyenyak makan tak enak